Kebiasaan-Kebiasaan Yang Berubah Setelah Menjalani Gaya Hidup Minimalis

Oktober 09, 2021

Larasatinesa.com - Kalau dipostingan sebelumnya saya bercerita alasan saya beralih gaya hidup ke minimalis dan apa aja yang saya lakukan untuk memulai hidup minimalis, kali ini saya mau share sama kamu tentang perubahan-perubahan apa aja yang terjadi di hidup saya selama hampir 1,5 tahun mengganti gaya hidup ini. Memang belum berubah total ya, masih bertahap dan saya pun masih terus belajar. Tapi nggak tahu kenapa, perubahan-perubahan kecil ini efeknya besar buat hidup saya. Bisa dibilang ini adalah sebuah pencapaian yang bikin saya bangga sama diri sendiri.

image source: unsplash | edited by canva

Oke, terus yang berubah apa, Nes?


1. Mindset (Pola Pikir) 

Ada yang nanya: "Kamu kan udah jadi minimalis nih, jadi sekarang kamar / rumah kamu udah estetik banget dong ya..."

NO. 😂

Alhamdulillah kamar saya temboknya masih hijau, dan seprainya kembang-kembang warna biru. 🤣

Melihat keresahan orang-orang awam yang beranggapan gaya hidup minimalis harus punya barang-barang estetik itu agak miris sih. Apa lagi banyak banget influencer yang sering bikin konten review haul barang- estetik yang bikin orang pada mupeng. Jujurly, saya pun suka sekali lihatnya. Namanya juga kita perempuan yak, pasti kalau lihat yang gemas-gemas bakalan tertarik. Tapi jangan bawa-bawa istilah minimalis di dalamnya ya. 

Karena sebenarnya gaya hidup minimalis bukan ditentukan dari estetikanya, melainkan dari mindset dan perilakunya. 

Dan saya pun nggak men-judge kamu yang beli barang-barang lucu atau estetik itu salah. Karena tiap orang kebutuhannya berbeda. Siapa tahu memang barang tersebut yang memang lagi dibutuhkan dan kebetulan belinya pas lagi ada sale, kan? Menurut saya, kita bisa beli apa pun yang kamu suka asalkan secara mindful

Sekali lagi, minimalis itu nggak harus estetik, begitu pun sebaliknya yang estetik belum tentu minimalis.



Ada satu lagi yang bikin saya resah. Ketika orang-orang menganggap bahwa:

Hidup minimalis = hidup hemat = pelit = hidup kekurangan

Kadang suka ingin teriak: "KONSEPNYA BEDA, MAEMUNAH!" 😂

Jadi, minimalism adalah tentang bagaimana kamu mengetahui dan memenuhi kebutuhan sesuai dengan apa yang kamu butuhkan dan penting untukmu - @lyfewithless

Hidup minimalis itu membeli barang-barang yang harganya bisa murah atau mahal namun fungsi serta manfaatnya sangat berarti dan bisa dipakai berkelanjutan buat hidup kamu. FYI, tidak ada patokan harga di sini, artinya pengeluaran kamu di sini bisa aja jadi hemat, sama aja (kayak sebelum jadi minimalis) atau besar di awal. Semua tergantung kebutuhan masing-masing.

Sementara hidup kekurangan / pelit itu ketika kamu membeli barang semurah-murahnya yang penting ada tanpa melihat manfaat, kualitas dan seberapa pentingnya barang tersebut untuk hidup kamu. Harga murah di sini wajib demi menekan pengeluaran. Nggak ada yang salah kok dengan ini. Hanya saja ini bukan bentuk gaya hidup minimalis. 

Sampai di sini paham kan ya? 


***

Balik lagi ke soal mindset dan perilaku. Sekarang entah kenapa saya lebih calm dan menerima segala bentuk kesenangan dan kesedihan yang datang di kehidupan saya. Contoh dalam berhubungan dengan orang lain, saya punya prinsip kalau orang itu mau stay silahkan, mau pergi juga nggak apa-apa. Hidup kan dinamis, orang-orang datang dan pergi silih berganti. Just make it easy and simple. 



Saya memang belum bisa lepas dari overthinking. Yaa namanya juga manusia, masih di situasi pandemi pula. Ada hari-hari di mana saya ngerasa menginginkan sesuatu yang sangat berisiko. Ketika overthinking, emosi saya semakin menggebu. Dari pada saya lepas kontrol, yang selalu saya lakukan adalah menenangkan diri dan curhat ke orang-orang terdekat. Buat saya ini efektif banget untuk mengendalikan semua perilaku yang terburu-buru. Dan benar aja, ini works di kasus saya. 

Mungkin ini ada kaitannya dengan saya yang lagi mempelajari filosofi Stoikisme. Penjelasan sederhananya begini: kita hanya bisa mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita - yakni pikiran dan tindakan kita sendiri. Apa pun di luar dua hal ini adalah hal eksternal di luar kendali kita. - Great Mind.

Hmm.. menarik juga bahas stoik nanti dipostingan selanjutnya. Saya pelajari dulu ya. Haha!


2. Habit (Kebiasaan)

Saya akan jelasin 3 kebiasaan saya yang berubah sejak menjalankan gaya hidup minimalis:

Decluttering 

Istilah decluttering ini emang udah nggak asing lagi di kalangan para minimalis ya. Decluttering ini hanya saya anggap bagian dari aksi minimalism. Saya yang pemalas ini tiba-tiba aja jadi suka declutter barang-barang di rumah. Emang sih nggak sering banget, tapi sebulan tuh pasti ada aja barang yang saya beresin, preloved dan juga didonasikan. Alhamduliilah, udah nggak berat-berat banget sekarang lepasin barang yang udah nggak spark joy lagi tuh. 

Jadi, bukan berarti ketika saya melakukan decluttering, saya udah bisa bilang kalau saya hidup minimalis. Melainkan akhirnya saya bisa memilah barang mana yang masih benar-benar saya butuhkan.



Purchase Behavior: bertanya sebelum membeli barang

Maksudnya nanya ke siapa, Nes?

Ya.. ke diri sendirilah.. Hahaha!

Jadi, saya itu sekarang punya kebiasaan bertanya sebelum membeli sesuatu. Siklusnya emang agak panjang nih. Kayak gini kira-kira:

  1. Apakah saya benar-benar butuh barang tersebut?
  2. Andai saya nggak membelinya, apakah saya bisa pakai yang sudah ada? Atau mungkin bisa pinjam / sewa?
  3. Apa yang akan saya lakukan dengan barang tersebut?
  4. Apakah barang tersebut akan membuat saya happy?
  5. Seberapa sering saya akan menggunakan barang tersebut?

Mikirin ini kadang bisa sampai 1 bulan lamanya dengan hasil bisa jadi beli / nggak. Sejujurnya pas nulis ini saya ada wishlist mau ganti hp. Tapi masih saya diamkan sampai saya benar-benar tau apakah memang seperlu itu atau masih bisa pakai hp yang lama. 



Mungkin nanti kalau nggak mager, saya bahas ini dipostingan selanjutnya ya. (Banyak banget ya rencana nulisnya si Nesa ini. 😂)

Baca Juga: Terlepas Dari Impulsive Buying


Beralih ke produk lokal ramah lingkungan

Dulu benar-benar nggak terpikirkan bahwa saya bisa menyukai produk ramah lingkungan. Pikirannya emang belum open minded dulu. Ditambah kurang percayaan gitu sama kualitas produk-produk lokal yang kebanyakan memang belum booming dipasaran. Tapi tenang.. sekarang udah tobat kok. Hehe.

Awalnya, saya coba produk sampo. Terus saya kaget karena ini samponya cocok di saya. Sejak saat itu, saya jadi sering browsing produk-produk lokal yang ramah lingkungan. Ternyata ada buanyaak banget! Bahan-bahannya pun kebanyakan natural yang udah pasti aman dan juga melestarikan hasil bumi.


Kebiasaan-kebiasaan yang saya tuliskan di sini pastinya terus bertambah seiring waktu dan dari seberapa banyaknya saya memahami konsep minimalis ini. 


3. Digital Minimalism

Ketika merasa lelah dengan dunia digital, salah satu cara yang paling efektif adalah istirahat. Saya pernah bahas tuntas digital minimalism dipostingan sebelumnya. Kalau kata Haenim Sunim: "ketika dihadapkan dengan banyak pilihan, manusia jadi tidak bahagia." Yap. Saya menjadi nggak bahagia ketika tahu banyak hal. Semua informasi berlebihan tersebut sering kali saya serap dari social media. 


Makanya saya mulai membatasi waktu ber-socmed. Saya sadar ketika berlama-lama online, saya jadi insecure dan berusaha ingin jadi seperti orang-orang yang saya lihat di sana. Dalam hati saya bilang: "kalau dia aja bisa, kenapa gue nggak?" awalnya saya mengartikan ini sebagai sebuah motivasi diri. Tapi lama kelamaan saya terganggu karena ini malah menjadi sebuah obsesi. Saya ingin ber-social media dengan wajar dan mindful.

Baca Juga: Ketika Social Media Bikin Burn Out


4. Bertanggung jawab terhadap sampah 

Ini bukan sok-sok zero waste kayak yang udah pada expert itu ya. Masih jauh bangetlah pokoknya. Terus juga saya nggak ada cita-cita mau jadi expert dalam hal ini kok. wkwk. 

Walau bentuknya masih perubahan kecil, tapi ini buat saya udah sebuah pencapaian yang nggak pernah dibayangkan sebelumnya. Siapa yang nyangka si Nesa yang moody-an ini sekarang jadi sering kumpulin sampah empties product skincare-nya buat di donasiin ke tempat daur ulang. Haha! 


Perasaannya tuh aneh banget gitu. Bisa-bisanya saya senang banget ngelakuin ini. Kalau dipikir-pikir ini proses ngumpulinnya effort banget; dicuci, dikeringkan, disusun ke box, lalu dikirim. Memang sih saya baru 2x mengirimkan sampah saya. Tapi ini akan saya agendakan tiap 1-2 bulan sekali. Terus apa yang didapatkan selain rasa senang? You know what? Habis kirim sampahnya, saya ngerasa legaaaaa banget. 

Ada lagi belanja bulanan ke supermarket. Saya selalu bawa 3 totebag untuk barang belanjaan saya nantinya. 

Boleh dong saya bangga: "Ternyata gue berguna juga buat bumi..."

Semoga bisa berlanjut nggak cuma memilah sampah produk skincare aja, tapi ke jenis sampah yang lain juga.


5. Kenangan terbaik adalah  pengalaman

Tahun 2019 lalu saya sempat liburan akhir tahun ke Malang - Semarang. Itu liburan terakhir sebelum pandemi dan sebelum akhirnya ponsel saya rusak buat selama-lamanya. Ini ngenes banget sih, karena hampir semua foto dan video saya selama liburan di sana nggak bisa diselamatkan. Saya jadi nggak bisa nulis review liburan saya diblog. Tapi untungnya beberapa foto udah saya upload di instagram, juga beberapa file ada yang masih bisa di backup. Saya sempat sedih dan menyalahkan diri sendiri, kok bisa-bisanya nggak langsung transfer file ke laptop. Tapi semuanya udah terlanjur, mau nggak mau saya harus menerimanya.

Bisa dibilang saya itu dulu anaknya sentimental banget sama hal-hal kecil, termasuk barang-barang pemberian orang lain. Saya bisa simpan sampai dengan waktu lama tuh. Even kartu nama temen-temen SD saya aja, saya masih simpan. Kkk.

Tapi setelah belajar minimalis saya akhirnya sadar satu hal, kalau ternyata kenangan yang paling berharga dalam hidup itu adalah pengalaman. Karena ingatan manusia itu ibarat harta karun yang kalau digali terus akan banyak muncul yang berharga. 

Contoh gampangnya gini: ketika kamu buang semua barang pemberian dari mantan kamu sampai bersih, lantas kamu akan lupa dengan apa yang udah kamu lewatin dulu sama mantanmu itu? Nggak kan? 😁


Dan karena ini juga saya suka traveling. Saya  suka sekali kumpulin kenangan dari pengalaman. Walau sekarang belum bisa ke mana-mana, saya selalu sempatkan waktu untuk staycation buat sekadar cari suasana baru selama WFH. Mudah-mudahan nih karena bandara udah open gate, si Nesa bisa ke Bali awal tahun depan ya. Aamiin. 


6. Mindfulness

Mindfulness adalah ketika kita sadar penuh dan hadir utuh terhadap apa yang kita lakukan dan kerjakan. Untuk bisa mindfulness, kamu harus benar-benar mengenali diri mulai dari: yakini, rasakan, butuhkan, sehingga kamu nggak mudah terombang-ambing  dengan pikiran negatif - Great Mind.

Kalau soal mindfulness ini, saya juga masih belajar terus kok. Saya ingin bisa selalu mindful dengan semua yang saya lakukan dalam keseharian. Karena dengan hidup lebih berkesadaran gini, saya jadi lebih bisa menghargai detik demi detik momen yang terjadi dihidup saya. Kan enak gitu, ngelakuin sesuatu even itu cuma nyuci piring atau ngepel lantai tapi kita benar-benar menikmati pekerjaan itu sepenuhnya. 

Menjalani gaya hidup ini membuat saya jadi lebih bahagia dari pada sebelumnya. Karena saya jadi bisa fokus terhadap hal-hal penting dihidup saya, lalu saya jadi gampang ikhlas menerima atau melepaskan sesuatu. Selain itu, saya juga bebas bisa melakukan hal-hal yang saya sukai tanpa harus mikirin pendapat orang lain. 

Sah-sah aja sih mau menunjukkan kebahagiaan diri lewat social media. Nggak ada yang larang kok berbagi kebahagiaan. Asal jangan maksa pura-pura bahagia aja, capek soalnya. Haha! 😅


***

Seseorang yang menjalani hidup minimalis pasti punya kesan-kesannya tersendiri, pun perubahannya pasti berbeda juga dengan yang saya alami. 

Terima kasih ya, udah menyempatkan membaca tentang perubahan kecil dihidup saya ini. Saya nggak akan pernah berhenti untuk cerita ke kamu betapa menyenangkannya menjalani gaya hidup ini. ✨

*semua gambar ilustrasi yang ada dipostingan ini diambil dari unsplash.com


Cheers,

Nesa

You Might Also Like

11 comments

  1. Semakin bertambah usia, saya semakin memikirkan soal hidup lebih simpel dan bermakna. Hasilnya hati dan kepala yang lebih adem memang. Tapi mungkin orang harus lewat fase jalan berbelok-belok dulu baru sampai ke sini, intinya mindful living sih, benar.

    BalasHapus
  2. ah, kenangan terbaik adalah pengalaman, hmm.. nampaknya ini yan paling berat ya untuk hidup minimalist orang-orang yan maih nganut paham jaman dulu hihi.. semua barang yang penuh kenangan masih disimpan, bahkan katanya lumayan bisa di lungsurkan :) tapi kalau memang lebih bermanfaat untuk orang lain sekarang, kenapa enggak ya :)

    BalasHapus
  3. Tulisan yang bagus! Emang ya, masalah barang-barang estetik itu menjadi keresahan banyak orang. Terutama karena harganya gak murah dan anggapan orang bahwa minimalism itu kudu eyecatching.

    Padahal pakai barang yang ada, tinggal disulap dikit juga pasti bisa.

    BalasHapus
  4. Aku sekarang juga lagi belajar hidup minimalis. Bener-bener mikir seribu kali sebelum beli barang, apakah benar-benar butuh atau sekadar pengen-pengen aja. Hasilnya hidup jadi lebih tertata, hemat dan nggak mudah impulsif kalau pengen ini itu.

    BalasHapus
  5. nice sharing sekali mba, plus ilustrasinya juga kece, bikin jadi tertarik pgn nyobain juga tuh hidup minimalis gitu, lebih peace of mind yaa

    BalasHapus
  6. Sesungguhnya ini adalah PR buatku mbaa,, niat sudah ada tapi kenapa susah bgt untuk diterapkan palagi kmrn 10.10 huuuks lah menangis. mudah2an nextnya aku bisa lbh bijak. aamiin

    BalasHapus
  7. Ya orang mungkin bilang minimalis itu pelit, karena dia belum mencobanya.
    Padahal memang sangat asik, barang² yang ada itu memang kebutuhan bukan keinginan

    BalasHapus
  8. Duh kebayang galaunya gimana galaunya ponsel rusak dan belum sempat bikin back up dokumen (foto). Hal ini juga saya alami belum lama ini, maksud hati mau nambah space memory HP dgn beli micro SD, eeh gak tahunya micro SD yang beli tersebut eror, dan semua file sdh terlanjur saya klik remove ke micro SD. Alhamdulillahnya ada sebagian yg terselamatkan karena sdh nyantol di gugel foto.

    BTW, setuju banget dengan penerapan poin "bertanya sebelum membeli barang", apalgi dengan maraknya trend belanja online dan perang diskon tanggal kembar, kerap lupa (khilaf) membeli barang A, B, C...sebenarnya dibutuhkan apa hanya sekedar tergoda dengan promo diskon dll

    BalasHapus
  9. Hidup minimalis ini PR banget buat kami sekeluarga. Kadang lost control juga untuk beberapa hal. Kalau ingat lagi, aduduh bikin istigfar. Padahal anak-anak udah tahu jug akalu kita wajib menjaga bumi ini, Hihi.

    BalasHapus
  10. Aku sdh mulai decluttering tp blm maksimal sih. Nah, ada banyak nih yg blm dilakuin, terutama zero waste, msh PR besar. Pilihan produk2 jg blm ramah lingkungan. Msh bnyk bgt yg hrs dilakuin utk hidup minimalis.

    BalasHapus
  11. Masih banyak yg berpikri minimalis itu hemat atau seadanya ya hehehe. Padahal harus bisa hidup sesuai kebutuhan. Aku juga mulai decluttering nih terutama barang2 yang lama gak dipakai biar space luas

    BalasHapus

Hi, thank you so much for stopping by. Let's connected!

- nesa -

Twitter

Instagram

Facebook Fanpage

Subscribe