Terlepas dari Impulsive Buying

November 29, 2020

Larasatinesa.com - Kata siapa jalanin gaya hidup minimalis bakalan mulus-mulus aja? Buktinya saya ngalamin juga up and down-nya. Bisa dibilang saya belum sepenuhnya beralih, kadang masih suka khilaf. Ketika saya lagi khilaf kayak gitu, biasanya saya cari cara untuk bisa bangkitin semangat saya lagi. Beberapa yang saya lakukan diantaranya bisa nonton Youtube tentang minimalism atau self development, baca buku, blogwalking, dan dengerin podcast. Nah, hari ini saya kebetulan habis dengerin podcast-nya @lyfewithless dengan bahasan impulsive buying. Relate banget nih sama apa yang lagi saya butuhkan. Karena jujur aja akhir-akhir ini saya sering masukin banyak banget barang ke keranjang belanjaan e-commerce gara-gara kena racun TikTok. Yaa.. walaupun belum dibeli karena belum gajian, tetep aja rasanya gimana gitu. Hhhh. 


By the way, pada punya TikTok nggak? Follow dulu dong: larasatinesa 😂

Oke, balik lagi ke bahasan. Jadi, demi menghindari impulsive buying yang besar kemungkinan bakalan terjadi sama saya nantinya, saya akhirnya disadarkan tuh dengan tema yang ada di podcast-nya. Saya jelasin ulasannya di sini ya. 

Impulsive buying adalah perilaku membeli barang secara impulsif alias berlebihan. Impulsive buying ini sebenarnya toxic, karena sering dikambinghitamkan atas nama mood yang padahal ini terbentuk dari mindset kita sendiri.

Misalnya gini: "Gue lagi galau nih, pokoknya gue harus belanja biar happy!" -- Padahal buat happy tuh ada banyak caranya,  dan nggak harus belanja. Apalagi belanjanya berlebihan. 

Penyebab-Penyebab Impulsive Buying

Racun Influencer

Udah berapa banyak barang yang kamu beli gara-gara di-review sama influencer favorit kamu? Hahaha. Ini juga lagi terjadi sama saya kok. Padahal saya tau banget barang-barang yang dia review itu endorse-an yang belum tentu dia bakalan pakai seterusnya. Beberapa barang terutama skincare memang ada yang bagus dan cocok. Tapi ada juga yang zonk dan saya ngalamin tuh. Yang cocok di orang lain belum tentu cocok di kita. Ini cuma karena rasa penasaran kita lebih besar daripada butuh barang tersebut. 

Flash sale

Lagi musim banget kan ini yang namanya flash sale ditanggal cantik dari 9.9 sampai kemarin ada 12.12. Saya tau kok yang lagi baca postingan ini pun ada yang nunggu saat-saat flash sale itu tiba. Wkwk. 

Racun jalan-jalan di pusat perbelanjaan

Sebelum pandemi, bukan hal yang aneh kan jalan-jalan ke mall. Apalagi kalau habis gajian, beuh.. hawa-hawanya tuh suka pengen buang-buang duit aja. Kkk. Saya pernah beli sepatu di mall tanpa direncanakan gara-gara model sepatunya baru masuk ke Indonesia dan saya nggak mau kehabisan. Lebay banget emang si Nesa ini. 


Nah, terus gimana sih biar nggak impulsive buying?

  • Mulai sortir following akun online shop dan influencer yang ada di social media kamu. Pikirin ulang lagi deh alasan kamu follow mereka tuh apa, masih berfaedah apa nggak. 
  • Set standar dalam membeli barang. Ini maksudnya seperti yang tengah saya lakukan; saya sekarang lebih prefer membeli produk lokal dan berbahan natural / organic (walau belum 100% beralih). Selain karena mau ikut memajukan perekonomian Indonesia, ternyata tubuh saya udah mulai berontak dengan bahan-bahan kimia. Ini nanti saya ceritakan dipostingan selanjutnya. 
  • Boleh beli barang promo, asalkan barang tersebut yang benar-benar sedang kamu butuhkan.
  • Set your limit. Challenge diri sendiri untuk tidak berbelanja. Saya pernah bilang kan kalau saya nggak belanja baju lagi selepas bulan Februari tahun ini. Lalu kemarin sempat juga  ikutan juga challenge dari @tukarbaju_ untuk nggak beli baju selama 3 bulan (Juli-Oktober). Lagi-lagi saya berhasil dong! Semoga bisa jadi kebiasaan saya seterusnya. 
  • Inventaris ulang barang-barang yang kamu miliki di rumah. Coba bongkar atau declutter lagi barang yang udah kamu punya, mungkin ada beberapa yang belum sempat kamu gunakan atau bahkan kamu lupa punya barang tersebut. 
  • Porsikan budget. Bikin budgeting bulanan termasuk budget entertainment / me time di dalamnya. Misal budget me time kamu itu 500rb / bulan, berarti lebih dari nominal tersebut kamu udah nggak bisa belanja lagi. 

  • Tahan diri untuk nggak datang ke tempat-tempat yang peluangnya besar untuk impulsive buying kayak ke mall, event, bazar. Kalaupun memang diharuskan pergi ke tempat-tempat tersebut, usahakan untuk selalu riset dan bikin planning  dulu buat belanja yang sesuai dengan kebutuhan kita. 

Hmm.. gimana bisa lepas impulsive buying kalau flash sale terus-terusan menghantui?

Bohong sih kalau saya nggak suka flash sale. Yang paling gampang untuk nggak tergoda dengan flash sale adalah ubah mindset kalau flash sale itu adalah sebuah gimmick untuk menarik pengunjung. Yakinin diri kamu kalau nggak semua promo itu buat kamu. Reminder terus diri kamu buat mindful buying alias belanja dengan secukupnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan. 

Sebetulnya nggak ada yang salah sama flash sale, justru PR kita adalah menahan nafsu untuk belanja. Jadi balik lagi ke diri masing-masing, bisa kontrol nafsunya apa nggak. 

Hayoo ngaku siapa kalau beli barang yang disuka nggak cukup belinya satu doang? Apalagi kalau barang tersebut lagi flash sale ya. Saya pun kadang gitu kok.  Nah, mulai sekarang mending dikurang-kurangin deh biar nggak numpuk. Barang-barang ini kelak akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. 


Kalau boleh jujur saya malah suka skip flash sale, tiba-tiba udah lewat aja tanggalnya. Nggak tau kenapa, karena udah terlalu sering flash sale jadi bikin nggak special lagi. Terus karena flash sale-nya ada di mana-mana, saya bisa sampai pusing scroll-scroll smartphone dan jadi capek sendiri lihatnya. Ujungnya saya nggak beli apapun. 

Saya malah punya cita-cita semoga saya suatu hari nanti bisa membeli barang tanpa harus lihat harga lagi atau nggak harus lihat lagi flash sale or nggak. Aamiin. 😌


Tips-nya apa dong biar terhindar dari flash sale yang meresahkan ini?

1. Jangan aktifkan notifikasi e-commerce.

2. Nggak subscribe newsletter situs belanja. 

3. Biasakan untuk selalu riset dulu sebelum membeli barang apapun. Jangan sampai terlalu excited sampai kamu belanja tanpa planning yang matang. Kamu bisa coba pakai rumus ini kalau belanja online:  

- Planning: tahap merencanakan pembelian barang.

- Riset: bisa lihat review dulu, kira-kira barang tersebut cocok buat kita apa nggak.

- Wishlist or save: menandai barang yang akan dibeli.

- List: masuk tahap masukin barang ke keranjang belanjaan.

-  Diemin dulu minimal sehari untuk kasih waktu buat mikir apakah barang tersebut betul-betul kamu butuhkan? 

- Eksekusi: Bisa jadi beli atau nggak.



4. Terapin konsep "one in-one out"  yang artinya kalau ada barang baru yang masuk berarti harus ada barang yang kamu lepas juga biar seimbang.

5. Alokasikan uang untuk menabung daripada foya-foya. Tentunya budget menabung harus lebih besar daripada budget entertainment.

6. Biasakan untuk memakai barang sampai habis atau rusak.

7. Jangan simpan payment details (no rekening, debit, kartu kredit) kamu di berbagai aplikasi e-commerce untuk menghindari pembayaran otomatis. Disarankan kamu nggak punya atau nggak daftar mobile banking. Bayar datang langsung ke ATM lebih baik karena akan lebih effort. Hari gini kan emang males banget kalau harus bayar lewat ATM. Daripada harus ke ATM ya mending rebahan. Akhirnya nggak jadi belanja deh. 😂


***

Baca Juga: Belajar Hidup Minimalis

Sebenernya inti dari terlepas dari impulsive buying ini cuma satu: TAHAN NAFSU BELANJA. Kalau saya sekarang walau masih sering masuk-masukin barang ke keranjang e-commerce tapi masih bisa kontrol karena selalu ingat tujuan-tujuan finansial saya, seperti nabung buat traveling, kumpulin dana darurat dan dana pensiun. Mumpung masih usia produktif dan dan punya kerjaan, jadi saya mau manfaatin momen ini sebaik-baiknya. 

Maklum deh habis ikut kelas finansial jadi bikin sadar ~

Oh ya, postingan ini bukan bermaksud untuk menggurui ya, karena saya juga masih tahap belajar dan masih perlu diingatkan. Tujuan postingan ini memang untuk mengingatkan diri saya sendiri kok, kalau bermanfaat buat kamu juga, saya ikutan seneng. Gitu. 😁


Cheers,

Nesa

You Might Also Like

25 comments

  1. Teteh semangat!!
    Aku yakin pasti teteh bisa.
    Dari tips yang teteh bagi aja udah jadi pertanda kalau teteh emang udah ada di level yang lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Kalau masih implusive, pasti postingannya masih berupa pertanyaan besar, ini gimana caranya sih biar g kalap belanja.

    BalasHapus
  2. Aku dulu sering banget impulsive buying. Terlepas dari ini semua ya pelan-pelan...
    alhamdulillaaah dapat temen yang sering tanya, "Ini lo beli karena pengen apa butuh?"
    terus ajak dia aja kalo lagi mo belenjong, jadi ada remnya.

    "Beneran nih, butuh? keknya lo dah punya yang merah loh.."

    "Nih gue punya, lo pake aja ntar kalo dah bosen lo balikin"

    Nah akhirnya saya nyerah wkwkwkwkk

    BalasHapus
  3. Nah ini ... impulsive buying berteman akrab dengan mereka yang menganggap shopping sebagai hobi hehe. Padahal shopping itu kan kebutuhan yang seharusnya tindakannya disesuaikan dengan kebutuhan.

    BalasHapus
  4. Setuju, memang perlu tekad yang kuat juga supaya gak impulsive ya, tahan2in nafsu belanja terutama untuk hal yang gak kita butuhin banget. Aku pun masih berjuang dengan diri sendiri untuk hal itu, semangaaaat!

    BalasHapus
  5. Aku yang palimg sering susah nahan itu kalau beli makanan. Kudu diingat betul ini tips2nya agar senantiasa bisa menerapkan.

    BalasHapus
  6. Terapin konsep "one in-one out" yang artinya kalau ada barang baru yang masuk berarti harus ada barang yang kamu lepas juga biar seimbang.


    Prinsip ini nih yg kudu dipegang erat2.
    Aku juga udah brenti beli2 baju jilbab etc, karena pingin menerapkan prinsip minimalism
    makasiii sharing artikelya yg bernas ini yaaa

    BalasHapus
  7. ahh iya bahaya bgt itu implusive buying
    makanya aq sering jauh2 dari hp klo ada promo promo dari marketplace klo emang lagi nggak butuh apa apa

    btw makasih tipsnya ya mbak

    BalasHapus
  8. Semangat mbak, terus menguatkan hati untuk lepas dari impulsive buying.

    hp saya bebas dari aplikasi ecommerce, ada flash sale atau nggak juga nggak ngaruh. Kadang ngintip-ngintip juga sih lewat web. Kali aja ada barang yang dibutuhkan.

    BalasHapus
  9. Ya Allah ini bermanfaat banget buat aku yang kalau Meleng dikit pasti scroll market place, habis itu tergiur diskon, gratis ongkir dan cashback. Padahal pemasukan seret kok ya belanja jalan terus 😭😭😭😭


    BalasHapus
  10. Keren, Mbak
    Impulsive buying ...beneran susah nahan nafsu belanja ya..Senang baca ini jadi semangat juga saya
    Saya selama pandemi beneran menahan diri mengingat mereka yang terdampak untuk makan aja mungkin susah masak sih saya bela-beli.
    Selain itu sampai saat ini decluttering masih jalan terus..beneran berusaha makin minimalis menjalani hidup biar ga banyak beban pikiran.
    Yuk semangat kita!

    BalasHapus
  11. Aku kadang masih impulsif. Tapi banyakan enggak kalau abis cekin cashflow hahahaha... Mematikan notif e commerce emang efektif Nes. Cuma suka tergoda beli printilan itu abis liat postingan tips malahan

    BalasHapus
  12. Wah, bener ini. Tp kalo aku jujur nih baru2 aj kena racun flashsale begini. Sejak april 2020 ini aja. Ktk sdh jenuh banget sm pandemi belanja online it jd menyenangkan. Haha. Tp beli yg butuh banget aja sih di flashsale. Prinsipnya beli yg bnr2 butuh n bnr2 murah gak nipu. Whaha

    BalasHapus
  13. Aku kerjaanya masukin keranjang mulu, tapi jarang banget kebeli. Emang tipikal yang nggak hobi belanja, ini juga yang bikin aku sendiri heran. Paling kalo belanja, ya yang dibutuhkan aja. Sering kalap itu pas belanja sayur sih,wkwkwk.. itu kalap banget. Makanya sekarang udah mulai konsisten nulis belanja mingguan, alhamdulillah terkontrol banget.

    BalasHapus
  14. Maunya gini, tapi akubsuka sayang sama barang barang lama apalagi ada kenangannya jadi mesti punya tekad yang kuat ya ka agar bisa minimalis

    BalasHapus
  15. alhamdulillah sih, aku belo sampai jadi impulsive buyer. Aku masih bisa rasional, dan milih-milih barang-barang yang dibeli berdasarkan prioritas kebutuhan. Tapi kayaknya sih itu karena budget yang terbatas. Kalo budget a.k.a duitku banyak, aku bisa aja begitu. Heheheh

    BalasHapus
  16. aku udah bener2 lewatin tahap impulsif banget belanja. hahaha.. emang dasarnya ga gitu suka bebelian, trus ngerasa ribet.

    tapi yaaa tahun ini lagi belanja mulu malah. karena pas banget butuh semua, jadi gak impulsif ya itungannya, tp boncos karena semua butuh ganti di saat yg sama 😂 sebel

    BalasHapus
  17. Tipsnya sangat bermanfaat dan tentunya hidup hemat dengan perencanaan itu lebih baik. Keren sekali untuk menahan belanjanya

    BalasHapus
  18. Susah klau menentukan membeli atau tidak membeli hanya karena alasan butuh atau ga butuh soalnya pasti selalu ada alasan untuk butuh hehehe

    BalasHapus
  19. Saya nih paling susah tahannya di urusan jajan kopi dan makanan. Huhuhuhu.
    Udah gak beli yang lainlain. Tapi sehari aja tanpa kopi dan roti tuh susahnya.
    Kalau dihitung-hitung, kayaknya lumayan sih kalau bisa menghemat di bagian ini T_T

    BalasHapus
  20. Semangaaatt
    Aku pas masih kerja dulu keknya gtu juga, kek berusaha nyenengin diri, tapi pas jd emak2 agak menyesal haha
    Emang siklus kehidupan kadang mengubah segalanya.
    Kalau pd akhirnya mbak bisa mengurangi/ berhenti sekarang itu udah oke bangeeett, jd kelak tak ada penyesalan :D

    BalasHapus
  21. Aku yah, sejak rumah terendam banjir dan bnayak barang hilang, rusak, terbuang dll, kalo mau beli barang itu mikirnya lama, utama sekarang adalah soal makanan, vitamin dan heppiness aja. barang, apalagi baju ngak nambah. baju yang kena banjir itu, hiiiksss

    BalasHapus
  22. Well emang alasan mood suka jd penguat kita buat belanja berlebihan kadang ya cm karena kita jd hepi dn merasa Enjoy aja melakukannta bukan karena benar-benar butuh

    BalasHapus
  23. Iya banget Nesaa..
    Tahan nafsu belanja. Kadang yang bikin gak nahan akutu kalo uda ke tempat skincare.
    Kerasanya pas comot-comot, uda banyak ajaaa...alesannya, mumpung ke mall kaan...kapan lagi?
    Heuehuu~

    BalasHapus
  24. ALhamdulillah saya sudah mulai sembuh dari kalap belanja. Dulu parah banget. Sekarang beneran udah berkurang kecuali belanja buku, yang mana mata saya gak kuat kalau baca buku digital. Sebulan masih 2-3 buku. Untuk baju, 9 bulan terakhir sudah tidak belanja. Begitu pun sepatu dkk. Tas, malah lebih parah lagi. Kayaknya udah tahunan. Nah, bener banget nih gak daftar mobile banking. Saya juga enggak jadi kalau males ke ATM ya gak akan belanja. Kalau butuh banget, barulah pakai mobile banking suami.

    BalasHapus
  25. setuju sama post mba Nesa, beberapa bulan terakhir ini, aku mulai unfollow akun akun belanja di sosmed, harapannya biar ngga tergoda juga. Mungkin hanya follow beberapa akun untuk produk yang memang sudah saya suka.
    baju bajupun dulu bisa dibilang sering terutama jaman kuliah, pas udah kerja malah pernah berbulan bulan ga beli baju.
    itu termasuk prestasi juga buat aku
    sekarang mau apa apa mikir lagi, saving harus tetep pokoknya

    BalasHapus

Hi, thank you so much for stopping by. Let's connected!

- nesa -

Twitter

Instagram

Facebook Fanpage

Subscribe