Pindah ke Bali untuk Slow Living, Tapi Mata Malah SePeLe!
Agustus 14, 2026Larasatinesa.com — Pindah ke Bali ternyata bukan cuma soal pindah alamat.
Setelah bertahun-tahun tinggal di Bandung—bahkan sejak lahir, akhirnya tahun lalu saya memberanikan diri untuk memulai hidup baru alias merantau di pulau cantik yang selama ini hanya saya datangi untuk liburan.
Keputusan ini sebenarnya sudah cukup lama saya pikirkan. Bukan cuma karena ingin tinggal di tempat yang lebih dekat dengan alam, tapi juga karena saya ingin mencoba membangun kehidupan dari awal, dengan rutinitas yang saya pilih sendiri.
Ada banyak hal kecil yang ikut berubah. Mulai dari cara menikmati pagi, tempat mencari kopi, kebiasaan kerja, sampai bagaimana saya menghabiskan waktu ketika sore mulai datang. Semuanya entak kenapa terasa lebih damai di sini.
Dulu, saya pikir hidup di Bali akan lebih banyak diisi dengan jalan-jalan ke pantai dan menikmati sunset. Ternyata setelah pindah, saya tetap harus bekerja. Bahkan bisa dibilang, laptop dan handphone masih menjadi dua benda yang paling sering saya lihat setiap hari setelah saya resign dari pekerjaan saya dulu di digital agency.
Saya masih bekerja di dunia digital sebagai content creator, dan sebagian besar aktivitas saya memang tidak bisa jauh dari layar. Mulai dari take video dan foto, editing, membalas email, mencari referensi, membuat script, melakukan voice over, upload konten, sampai scrolling media sosial untuk mencari ide berikutnya. Semuanya saya lakukan sendiri dan berulang.
Biasanya, supaya nggak bosan, saya suka pindah-pindah tempat kerja. Kadang sambil ngopi di café. Kadang dari kamar. Kadang juga ala-ala duduk di pinggir pantai dan berpura-pura sedang menikmati Bali, padahal lima menit kemudian kembali membuka laptop atau handphone. Hahaha!
Dan dari situlah saya mulai sadar bahwa ternyata nggak hanya tubuh saya yang lelah, tapi mata juga bisa ikut “capek” menjalani kehidupan baru di Bali.
Saat Mata Mulai SePeLe
Awalnya saya sih nggak terlalu memikirkannya. Ketika sedang bekerja, mata mulai terasa sepet dan tidak nyaman. Sesekali terasa perih, lalu lama-lama mata terasa lelah dan berat. Kalau disingkat: SEpet, PErih, LElah. SePeLe.
Mata terasa gatal dan tidak nyaman, perih atau iritasi, sampai terasa cepat lelah dan berat. Tiga hal sederhana yang ternyata cukup mengganggu kalau datang di waktu yang salah. Persis seperti namanya, saya juga menganggapnya sepele.
“Halah, paling cuma karena kelamaan lihat laptop!”
Begitu pikiran saya waktu itu.
Jadi bukannya berhenti, saya malah lanjut bekerja. Apalagi kalau lagi gencar-gencarnya ngejar deadline konten. Rasanya sayang banget kalau harus meninggalkan laptop hanya karena mata terasa sedikit tidak nyaman.
Ternyata, terlalu fokus pada suatu aktivitas dalam waktu lama juga bisa membuat kita jadi jarang berkedip. Sebagai content creator, saya cukup sering mengalaminya. Saat sedang serius editing video, membuat script, atau membaca sesuatu di layar, kadang saya bisa lupa waktu dan baru sadar mata sudah terasa lelah.
Belum lagi kalau setelah selesai bekerja saya lanjut scrolling di handphone. Sepertinya mata saya memang punya alasan untuk akhirnya protes. 😅
Sampai suatu hari saya sedang WFC di sebuah café di Canggu. Sebenarnya ini salah satu hal yang saya suka dari kehidupan di Bali. Saya bisa bekerja di tempat yang suasananya menyenangkan, sambil minum kopi dan sesekali melihat suasana sekitar.
Hari itu saya punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi setelah cukup lama menatap layar, mata mulai terasa sepet dan perih. Saya jadi lebih sering berkedip, beberapa kali mengucek mata, dan akhirnya merasa sulit berkonsentrasi. Pekerjaan yang seharusnya bisa selesai lebih cepat malah terasa lebih lama.
Saya bahkan tidak bisa menikmati suasana café seperti yang saya bayangkan sebelumnya karena sebagian perhatian saya justru sibuk dengan mata yang terasa tidak nyaman.
Definisi “sakit” yang dibikin diri sendiri. Hahaha!
Di situ saya baru sadar, ternyata Gejala Mata Kering memang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Bukan selalu karena sakitnya luar biasa, tetapi rasa sepet, perih, dan lelah yang kelihatannya kecil ternyata cukup untuk membuat sebuah momen menjadi kurang maksimal.
Ternyata, saya bukan satu-satunya yang menganggap gejala ini sepele. Berdasarkan survei INSTO terhadap 710 responden berusia 15 tahun ke atas di wilayah Jabodetabek dan Bandung, prevalensi mata kering mencapai 41%. Artinya, sekitar 4 dari 10 orang mengalami gangguan mata kering, dan hampir separuhnya bahkan tidak menyadari kondisi tersebut.
Sumber: detikHealth, “Gejala SePeLe Mata Kering Jangan Disepelekan, Atasi dengan Insto Dry Eyes”, 20 Desember 2025.
Mungkin memang karena gejalanya sering dianggap sepele. Saya pun begitu.
Mulai Belajar Lebih Peduli
Setelah mengalaminya sendiri, saya mulai mencoba mengubah beberapa kebiasaan kecil.
Kalau sudah terlalu lama di depan laptop, saya berusaha memberikan jeda untuk mata. Saya tidak menggantinya dengan membuka handphone, tetapi benar-benar menjauh dari layar.
Kadang saya keluar kamar dan melihat pepohonan di sekitar rumah. Kadang jalan sebentar. Atau kalau sedang di café, saya cukup berhenti bekerja dan menikmati kopi sambil melihat view sekitar tanpa membuka laptop sama sekali.
Lumayan cukup menyegarkan. Sekalian mengingat bahwa saya pindah ke Bali kan mau slow living, bukan untuk terus-terusan menatap layar. 😅
Saya juga mulai memperhatikan posisi layar dan pencahayaan ketika bekerja. Kalau berada di ruangan ber-AC, saya berusaha tidak membuat udara langsung mengarah ke wajah karena mata bisa terasa semakin tidak nyaman.
Selain itu, saya mulai mencari solusi yang praktis untuk membantu mengatasi rasa tidak nyaman ketika mata terasa kering.
Dari situlah saya mengenal INSTO DRY EYES.
INSTO Dry Eyes mengandung bahan aktif yang memberikan efek pelumas seperti air mata, sehingga membantu mengatasi rasa tidak nyaman ketika mata terasa kering. Buat saya, ini cukup praktis untuk digunakan ketika mata mulai terasa kering setelah terlalu lama bekerja di depan layar.
Buat saya, keberadaan tetes mata seperti ini cukup membantu karena aktivitas sebagai content creator memang membuat saya sulit benar-benar jauh dari layar. Apalagi kalau sedang mengejar deadline atau harus bekerja dari café seharian.
Tapi tentu saja, bukan berarti saya bisa bebas menatap laptop berjam-jam tanpa istirahat.
Justru sejak mengalami mata SePeLe, saya semakin sadar bahwa tetes mata bukan alasan untuk memaksakan mata terus bekerja. Tetap perlu memberi waktu untuk beristirahat dan menjaga kebiasaan sehari-hari.
Jangan Sampai Mata Ketinggalan Menikmati Bali
Salah satu alasan saya pindah ke Bali adalah ingin menjalani kehidupan yang lebih seimbang. Saya masih ingin tetap bekerja, tetapi juga ingin punya waktu untuk menikmati hal-hal sederhana.
Mendatangi tempat menarik yang belum dikunjungi. Café hopping. WFC sambil menikmati suasana yang berbeda. Jalan pagi di pantai. Mencari kuliner enak. Melihat langit berubah warna menjelang sunset. Atau sekadar duduk di kamar setelah seharian bekerja tanpa harus melakukan apa-apa.
Sekarang saya masih tetap bekerja dengan laptop hampir setiap hari. Masih edit video, membuat konten, membalas email dan DM, dan tentu saja masih sering membuka handphone. Tapi saya sudah semakin peka ketika mata mulai memberikan tanda.
Kalau sudah terasa SEpet, PErih, atau LElah, saya tahu sudah waktunya berhenti sebentar.
Karena ternyata menjaga kenyamanan mata bukan cuma tentang menghindari rasa tidak nyaman. Buat saya, ini juga tentang memastikan saya tetap bisa menikmati hal-hal yang saya pilih ketika memutuskan untuk memulai hidup baru di Bali.
Bali mengajarkan saya untuk sedikit lebih pelan. Untuk sesekali menutup laptop dan melihat dunia di luar layar. Dan ternyata pemandangan di luar sana memang jauh lebih menarik.
Masih banyak lho sunset yang ingin saya lihat, café yang ingin saya coba, tempat yang ingin saya datangi, dan cerita yang ingin saya bagikan di blog ini.
Jadi kalau suatu hari saya bilang sama kamu, “Aku pindah ke Bali buat slow living,” jangan 100% percaya ya. Itu cuma akal-akalan barat. Hahaha!
Saya masih kerja di depan layar laptop dan handphone hampir setiap hari kok. Bedanya, sekarang kalau mata mulai terasa SePeLe, saya tahu itu bukan sesuatu yang harus disepelekan.
Karena saya sudah jauh-jauh pindah ke Bali. Masa sunset-nya malah kalah sama laptop? 😅🌴
![]() |
| Sunset-an bawa INSTO DRY EYES |
#InstoDryEyes
#BebasMataKering
#MataSePeLeJanganSepelein
#InstoxBloggerPerempuan
Cheers,
Nessa



.png)








0 comments
Hi, thank you so much for stopping by. Let's connected!
- nesa -