Larasatinesa.com - Hari pertama di Semarang, saya memutuskan untuk wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang famous itu. Bukan karena saya udah baik akhlaqnya atau udah janjian mau pengajian sama Ibu-Ibu setempat ya, tapi karena tempatnya lumayan agak jauh jadi duluan dikunjungi. Gitu. 😂
Pengalaman Naik BRT Trans Semarang
![]() |
| Semarang Trip Day 1: Wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah |
Awalnya saya dan Kak Winda teman saya, mau ke sana naik taxi online. Tapi balik lagi karena di sini tarif taxi online mihil sikili, jadinya saya mau mencoba menjadi warga lokal dengan naik transportasi umum, BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang. Kebetulan banget dari POP! Hotel Pemuda itu tinggal jalan kaki sebentar ke Balai Kota buat menemukan haltenya. Berbekal info dari googling yang katanya bisa ke Masjid Agung naik BRT sekali doang, kami berdua pede aja menuju halte pagi-pagi banget sekitar pukul 8. Sampai di sana kami tanya ke petugasnya harus naik BRT jurusan apa dan nomor berapa karena di sini warna kendaraannya sama, yang membedakan hanya nomor sesuai jurusan. Nggak kebayang deh kalau saya tinggal di Semarang bakalan siwer salah naik kendaraan umum. Hahaha. Tapi kalau udah terbiasa sih kayaknya nggak ya. 😁
Kami naik BRT Trans Semarang koridor VII yang nantinya akan melintasi lapak sementara Pasar Johar yang sedang direlokasi. Nah kebetulan lapaknya itu ada di kompleks MAJT, tepatnya di belakang masjid. Kami langsung bilang ke kondekturnya buat diturunkan di area tersebut. Waktu naik BRT kami salah tempat duduk, karena posisinya kursi depan untuk penumpang laki-laki, sedangkan penumpang perempuan duduknya di belakang. Ini kebalikannya dari busway di Jakarta ya. Haha! Pagi itu masih sepi, penumpangnya cuma ada 3 orang termasuk seorang ibu yang duduk di depan kami. Untuk tarif BRT-nya Rp.3500,- / orang. Murah banget khaaan.
Kami naik BRT Trans Semarang koridor VII yang nantinya akan melintasi lapak sementara Pasar Johar yang sedang direlokasi. Nah kebetulan lapaknya itu ada di kompleks MAJT, tepatnya di belakang masjid. Kami langsung bilang ke kondekturnya buat diturunkan di area tersebut. Waktu naik BRT kami salah tempat duduk, karena posisinya kursi depan untuk penumpang laki-laki, sedangkan penumpang perempuan duduknya di belakang. Ini kebalikannya dari busway di Jakarta ya. Haha! Pagi itu masih sepi, penumpangnya cuma ada 3 orang termasuk seorang ibu yang duduk di depan kami. Untuk tarif BRT-nya Rp.3500,- / orang. Murah banget khaaan.
Mesjid Agung Jawa Tengah
Dan sampailah saya di area kompleks MAJT. Diturunkannya ternyata nggak di halte gitu, melainkan di sebuah hamparan tanah luas yang kosong bersebelahan dengan lapak pasar yang sedang direlokasi. Dari kejauhan saya udah melihat MAJT. Kemudian saya mendekat menuju pintu belakang MAJT. Saya kira pagarnya terbuka, taunya digembok. Dan saya nggak tahu harus nanya sama siapa karena nggak ada yang jaga. Yanasip, akhirnya saya jalan kaki menuju jalan raya dan masuk lewat gerbang utama MAJT. Belum apa-apa udah keringetan aja.
Terus saya ingat mau ke rumah Allah nggak boleh banyak ngeluh. Langsung istighfar. 😅
Terus saya ingat mau ke rumah Allah nggak boleh banyak ngeluh. Langsung istighfar. 😅
Area masjidnya cukup luas, walau masih pagi tapi udah banyak banget rombongan wisata yang datang. Sama aja sih ya kayak Masjid Agung Jawa Barat yang ada di Kota Bandung. Bedanya kalau MAJT tempatnya bukan di pusat kota. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 hingga selesai secara keseluruhan pada tahun 2006. Masjid ini berdiri di atas lahan 10 hektare. Masjid Agung diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006. Masjid dengan luas areal tanah 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk salat 7.669 meter persegi secara keseluruhan pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000. Ntaps! 😎
Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi-kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.
Saya suka banget halaman masjidnya yang megah, apalagi area serambinya terdapat 6 payung raksasa otomatis yang sama persis seperti yang ada di Masjid Nabawi di Madinah. Sayangnya, saya nggak ke sana di hari Jumat. Karena menurut info payung raksasa ini dibuka setiap salat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot. Pasti bakalan keren banget sih kalau payungnya terbuka. Oh ya, kalau bisa nih ke sini pas masih pagi kayak saya gini, soalnya makin siang lantainya makin panas dan kamu harus buka alas kaki di batas suci. Tau sendiri kan ya Semarang berdekatan sama pelabuhan, panasnya gokil banget! 😌
![]() |
| Assalamualaikum ukhti.. |
Nggak hanya berjalan di halamannya aja, saya pun masuk ke dalam masjidnya lewat pintu samping menuju tempat salat wanita di lantai atas. Nggak di mana-mana ya masjid mah adem banget. Sayangnya lagi nih, pas datang belum waktunya salat (padahal bisa salat dhuha tapi saya nggak ingat 😥) jadi saya hanya berkunjung aja. Untuk arsitektur di dalam masjidnya kental dengan kemewahan. Saya lumayan agak lama di dalam masjid, menikmati suasana dan keademannya. Dan buat kalian pecinta kucing kayak saya, kalian akan menemukan banyak kucing di masjid ini. Termasuk kucing berwarna calico yang saya temui ini. Hamdallah.. kucing-kucing di sini gendut semua. Haha!
![]() |
| Ketemu bumil nih ~ |
Selain disiapkan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, MAJT ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas.
Menara Asma Al Husna
Selain mengunjungi MAJT, saya juga mengunjungi Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower yang bangunannya menjulang setinggi 99 meter. Menara ini punya 19 lantai yang terdiri dari;
- Lantai 1: Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU.
- Lantai 2 dan 3: Museum Kebudayaan Islam.
- Lantai 18: Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat.
- Lantai 19: Menara pandang 5 teropong.
Untuk masuk ke Menara ini ada uang infaqnya Rp.7.500,- wajar sih buat perawatan bangunannya. Saya nggak berkunjung ke semua lantai karena hanya disarankan untuk ke lantai 19, 2 dan 3 aja. Pertama yang saya kunjungi adalah lantai 19, dari atas sana saya bisa melihat keindahan kota Semarang dari teropong. Untuk bisa melihat teropong dikenakan biaya 1000 rupiah / menit. Lumayan.. bisa lihat laut secara Semarang dan hilal jodoh. Menurut sumber, pada awal Ramadan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha.
![]() |
| Al Husna Tower |
![]() |
| Lantai 1 Al Husna Tower |
![]() |
| Tiket masuk Al Husna Tower |
![]() |
| Kak Winda lagi lihat hilal jodohnya dari teropong ~ |
![]() |
| Pemandangan MAJT dari atas |
![]() |
| Ruangan hilal |
Setelah selesai dari lantai 19. Saya langsung menuju lantai 2-3 untuk ke Museum Kebudayaan Islam. Banyak sekali pengetahuan tentang perkembangan Islam khususnya di tanah Jawa. Btw, saya hanya sekilas-sekilas aja sih pas di sini. Karena tempatnya gelap dan sepi gitu. Huhu.
Nggak biasanya lho saya kalau traveling menyempatkan buat wisata ke tempat ibadah. Tapi kayaknya di Semarang ini banyak sekali tempat ibadah dari beberapa agama yang cukup terkenal. Rencananya saya memang akan mengunjungi satu-persatu tempat-tempatnya dihari kedua dan ketiga.
Masjid Agung Jawa Tengah
Jl. Gajah Raya, Sambirejo,
Kec. Gayamsari, Kota Semarang,
Jawa Tengah 50166
Beli Oleh-Oleh di Moaci Gemini
Waktu udah menunjukan pukul 11 siang, tapi gerahnya udah maksimal. Tadinya rencana mau langsung pulang aja ngadem di hotel, tapi karena dari MAJT ini lokasinya berdekatan dengan toko oleh-oleh "Moaci Gemini", jadi saya langsung membeli oleh-oleh dihari pertama. Karena nggak melihat ada BRT Trans Semarang yang lewat disekitar sana, saya akhirnya naik taxi online.
Sejujurnya saya nggak tahu kalau Moaci Gemini ini adalah salah satu oleh-oleh legendaris khas Semarang yang berdiri sejak tahun 1985. Memang saya mah anaknya kurang pergaulan. Kkk. Tapi namanya menarik perhatian banget nggak sih, secara zodiak saya Gemini. Hahaha! 😂
Pas sampai di sana kayak surga. Saya emang suka banget sama moaci. Moaci di sini tuh ukurannya besar agak berbeda dari moaci Cianjur atau Sukabumi. Dan yang saya temui di sini ada berbagai macam rasa moaci; original (kacang tanah), kacang merah, cokelat, green tea, oreo, strawberry, durian dan aneka rasa lainnya. Taburannya pun ada 2 macam; tepung dan wijen. Untuk isinya kita bisa milih. Ada yang isi 10 pcs, 16 pcs dan 25 pcs. Untuk harga berkisar Rp.25000,- s/d Rp.47000,- tergantung rasa. Moaci Gemini udah mengantongi label Halal MUI ya, guys.
Toko oleh-oleh Moaci Gemini ini tidak terlalu besar tempatnya. Tapi karena famous dan punya beberapa cabang, nggak pernah sepi pelanggan. Salah satu yang jadi alasan saya kenapa beli moaci duluan karena moaci ini bisa bertahan sampai 1 minggu. Oh ya, di toko Moaci Gemini ini tidak hanya menjual moaci aja, tapi ada juga oleh-oleh camilan lain. Selain moaci, saya kemarin beli titipan Ibu; intip goreng manis, dan lanting.
Buat yang berlibur ke Semarang, jangan lupa beli oleh-olehnya ke Moaci Gemini yaa!
PS: Dear yang punya Moaci Gemini, please kasih diskon buat yang zodiaknya Gemini dong! Bisa cek bukti identitas untuk kebenarannya. Trims. - Nesa, Aktivis Gemini 2020.
Moaci Gemini Pusat
Jl. RA. Kartini No.19,
Karangturi, Kec. Semarang Tim,
Kota Semarang, Jawa Tengah 50124
Makan Nasi Goreng Kambing Pak Karmin
Singkat cerita, pulang dari Moaci Gemini saya sempat mampir makan siang dulu, kemudian naik BRT Trans Semarang lagi pulang ke hotel dan pesan Leker Paimo via ojek online (karena tempatnya hits dan penuh banget). Bisa dibilang traveling Semarang ini adalah traveling ternyantai. Saya nggak memaksakan harus ke semua tempat dalam satu hari. Mungkin sih ini karena wisata kota di Semarang tempatnya berdekatan jadi bisa santai. Jadi emang niatnya dipuas-puasin banget.
Malamnya saya ada rencana buat makan nasi goreng kambing yang hits banget di Semarang. Itu lho yang katanya bisa antri panjang sampai berjam-jam. Dan di luar rencana, teman saya Uti (yang waktu itu ke Thailand bareng) nyamperin saya ke hotel. Sumpah.. w lupa kalau Uti kerjanya di Semarang. Hahaha! Uti berasa jadi GPS nih karena udah 3 tahun di sini, pas makan malam itu dia nunjukin jalan pintas buat menuju Nasi Goreng Kambing Pak Karmin yang ternyata dekat banget dari hotel saya.
Sampai di sana, lumayan banyak banget yang makan, walau nggak ada antrian panjang. Saya nungguin dulu beberapa orang yang selesai makan buat duduk. Sebenarnya nama kedainya Nasi Goreng Babat Pak Karmin, tapi karena saya nggak begitu suka dengan babat jadi pesan nasi goreng kambingnya aja. Oh ya, ada menu lain yang juga hits di sini yaitu babat gongso yang dipesan sama Uti.
Menu-nya nampak sederhana, hanya ada telur dadar sebagai toping-nya. Tapi rasanya juara banget. Porsi besar ini bisa saya habisin sekejap karena emang enak banget. Bumbu rempahnya terasa dan daging kambingnya empuk ditambah dengan sambal pedas. Untuk seporsi nasi goreng kambing dan babat gongso harganya masing-masing Rp.25.000. Tapi kalau babat gongso belum sama nasi ya. Pulang makan nasi goreng ini saya senang dan kenyang. Apalagi pulangnya tinggal jalan kaki aja. Memang berasa banget ya kalau dari wishlist jadi kenyataan!
![]() |
| Nasi Goreng Kambing pesanan saya! |
Menu-nya nampak sederhana, hanya ada telur dadar sebagai toping-nya. Tapi rasanya juara banget. Porsi besar ini bisa saya habisin sekejap karena emang enak banget. Bumbu rempahnya terasa dan daging kambingnya empuk ditambah dengan sambal pedas. Untuk seporsi nasi goreng kambing dan babat gongso harganya masing-masing Rp.25.000. Tapi kalau babat gongso belum sama nasi ya. Pulang makan nasi goreng ini saya senang dan kenyang. Apalagi pulangnya tinggal jalan kaki aja. Memang berasa banget ya kalau dari wishlist jadi kenyataan!
Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok
Jl. Pemuda, Dadapsari,
Kec. Semarang Utara,
Kota Semarang, Jawa Tengah 50188
Hmm.. kira-kira pada penasaran nggak hari kedua dan ketiga di Semarang, saya bakalan ke mana aja?
Cheers,
Nesa

























































