Percakapan dengan Malaikat

Maret 09, 2015

Sadar atau tidak, ketika kamu hidup di dunia akan selalu ada teman yang setia menemanimu kemanapun kamu melangkah. Seperti saya yang boleh kalian percaya atau tidak, saya selalu berkomunikasi batin dengan kedua penjaga diri saya yang setiap detiknya mereka memperhatikan saya. Mereka selalu tahu apapun yang saya lakukan, buruk atau baik.

Ini adalah percakapan saya dengan kedua teman ghaib yang sudah menemani saya sedari lahir sampai sekarang yang bernama Malaikat Rakib dan Malaikat Atid. Selain kepada Tuhan, saya selalu berkomunikasi dengan mereka. Karena saya percaya mereka tidak akan pernah pergi meninggalkan saya, sekalipun dunia membenci kehadiran saya.

Atid : " Rakib sedang malas mencatat kebaikanmu sekarang, karena kamu seringkali mengeluh tentang hidupmu akhir-akhir ini. Bukankah sudah baik-baik saja sekarang? "

Saya : " Kata siapa? Aku hanya baik-baik saja ketika diluar rumah, didepan orang yang baru kukenal ataupun tidak dikenal. Aku sudah ada kemajuan kok. Tapi aku tetap hanyalah seorang manusia yang bukan tidak mungkin akan tiba-tiba mengingat kejadian-kejadian lalu yang menyakitkan dihidupku kemarin makanya aku seringkali mendadak sedih. Wajar kan? " 

Atid : " Ayolah Neisia.. Kamu tidak boleh begitu seharusnya. Allah sudah memberikan kamu kesempatan yang jauh lebih baik sekarang. Lalu untuk apa kamu menangis tiap malam. Kamu tidak bersyukur ya dengan keadaan saat ini? Apa kamu tidak senang dengan pekerjaan barumu itu? "

Saya : " Jujur aku senang dengan pekerjaan baruku ini. Jauh dari jangkauan mana-mana. Tidak banyak orang usil yang ingin tahu tentang hidupku yang berantakan ini. Dan kamu tahu tidak? Walaupun baru sesaat aku disini, aku jadi belajar. Tiap orang disini banyak yang sama sepertiku. Menutupi kesedihan dengan caranya masing-masing. Banyak materi berlimpah bukan jaminan hidupmu tidak bermasalah ternyata.."

Atid : " Nah, kamu sekarang mengerti kan kalau bukan hanya kamu saja didunia ini yang diberi cobaan? Janganlah kamu berpikir kalau hanya kamu sendiri yang paling menderita didunia. Allah memberi kamu ini bukan berarti perjuangan hidupmu sia-sia. Dia mau kamu kembali kepadaNya dengan keadaan dijalan-Nya yang diridhai, hari ini kamu menangis karena cobaan berat dihidupmu. Kamu hanya tidak tahu apa yang akan Allah berikan setelah ini kepadamu. Tugasmu sekarang hanya meyakini dan serahkan semua kepadaNya. Itu saja "

Saya : " Sampai kapan yaa Atid? Apa 5 bulan terakhir ini aku belum cukup bersabar dengan semua yang kulalui? Sampai kapan aku harus bersembunyi dan menyimpan ini semua kepada teman-temanku yang sepertinya mereka gatal ingin menanyakan bagaimana keadaanku sekarang "

Atid : " Semua akan berakhir dengan sendirinya. Allah tidak akan memberimu cobaan diluar batas kemampuanmu. Allah akan memberikan jalan terbaiknya untukmu dengan cara apapun, tetapi ada syaratnya "

Saya : " Apa itu syaratnya? "

Atid : " Kamu hanya harus menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong didalam hidupmu. Bukan yang lain. Hidup ini permainan Allah, untuk apa kamu tangisi orang-orang yang mengkhianatimu. Mereka ada untuk menjadikan hidup kamu bermakna. Rasa sedih, senang dan sakitmu semua milik Tuhanmu. Semuanya sudah ditakdirkan sebelum kamu hadir ke dunia.. kuncinya kamu harus sabar.. "

Saya : " Iya, aku tahu itu. Tapi apa salahnya kalau aku hanya ingin bahagia.. itu saja Atid.."

Atid : " Allah sudah lebih tahu itu Neisia.. Jika kamu terus menerus mempertanyakan kapan kamu akan bahagia kamu tidak akan bisa menikmati hidupmu sampai kapanpun. Harusnya kamu bersyukur masih diberi kehidupan yang baik ditiap harinya tidak kekurangan apapun. Kamu harus lebih sering melihat kebawah agar selalu belajar, ke tempat saudara-saudaramu yang lebih menderita "

Saya : " Astaghfirullahaladzim.. hina sekali diriku ya Atid, aku hanya fokus dengan urusan duniaku tanpa mempedulikan sudah berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadaku.."

Atid : " Tolonglah Neisia.. aku sudah lelah mencatat segala keburukanmu. Biarlah Rakib yang sekarang menggantikanku, walaupun aku akan sesekali datang. Bisa kamu berjanji padaku untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di dunia ini? "

Saya : " Tidakkah kamu tahu bahwa aku selama ini sedang berusaha seperti itu? Segala kebaikan yang aku lakukan selama ini semua sia-sia belaka.."

Atid : " Itu karena kamu melakukan kebaikan demi manusia, bukan karena Allah. Sekarang lakukan karena Tuhanmu, bukan karena yang lain. Karena yang berhak menghitung kebaikan dan derajatmu kelak hanya Allah. "

Saya : *menangis*

Atid : " Ketahuilah Neisia.. tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dihidupnya. Aku dan Allah tahu betul-betul dirimu. Biarlah orang lain mau menilai apa, aku hanya berpesan ikhlaskan niatmu untuk melakukan hal-hal baik agar dosamu diampuni Allah. Jika kamu sudah menyerahkan hidupmu kepada-Nya, niscaya hidupmu terasa lebih ringan "

Saya : ....

Atid : " Dan mulai hari ini, berdamailah dengan masa lalumu. Maafkan semua kesalahan orang-orang yang sudah menyakitimu. Allah saja maha pengampun, masa iya kamu yang hanya hambanya tidak bisa mengampuni? Sudah ya aku ingin istirahat, biar kupanggilkan Rakib agar kamu bisa mengontrol hidupmu menjadi lebih baik " 

Saya : " Sejujurnya .. Aku belum sanggup bertemu Rakib ya Atid..."

Kemudian Atid menghilang dengan sekejap tanpa mengatakan apa-apa lagi terhadap saya. Lalu Rakib datang dengan senyuman indahnya dan hanya mengatakan beberapa kalimat ini.

Rakib : " Baiklah Neisia.. Jika kamu ingin hidup bahagia didunia sampai diakhirat kelak, bahagiakan dulu dirimu mulai dari sekarang. Aku akan mulai mencatat semuanya dari sekarang ya.. "


pic source

-Neisia, Rakib, dan Atid-  

You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Mohon untuk berkomentar yang sopan, tidak menuliskan link hidup, dan tidak menyudutkan pihak manapun ya. Insya Allah saya akan berkunjung balik ke Blognya :)

Twitter

Instagram

Facebook Fanpage

Subscribe